Posted by : Kausar Munzir Rabu, 18 Februari 2015

Kisah Pembunuh Seratus Orang Yang Bertaubat


Nabi Shallallahualaihi wa Sallam bersabda : 

“Pernah terjadi pada umat sebelum kalian seseorang yang membunuh Sembilan puluh Sembilan orang. Lantas dia menanyakan tentang orang yang paling alim di muka bumi ini. Lalu dia diberi petunjuk agar mendatangi seorang rahib. Dia pun mendatangi rabih tersebut. Dia mengatakan bahwa dirinya telah membunuh Sembilan puluh Sembilan orang, apakah masih ada pintu taubat untuknya? Rahib menjawab, ‘Tidak ada’. Lalu dia membunuh rahib tersebut sehingga orang yang dibunuhnya genap seratus orang.”



Kisah Pembunuh Seratus Orang Yang Bertaubat

“Kemudian dia menanyakan tentang orang paling alim di muka bumi, sehingga dia diberi petunjuk agar mendatangi seorang lelaki yang alim. Dia berkata kepadanya bahwa dirinya telah membunuh seratus orang. Apakah masih ada pintu taubat baginya? Orang alim tersebut menjawab, ‘Iya, masih ada. Siapa yang menghalangi antara seseorang dengan taubatnya. Pergila ke daerah ini dan ini. Sungguh, di daerah tersebut terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beribadalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama mereka. Janganlah engkau kembali kedaerahmu, karena daerahmu adalah tempat yang buruk.”

“Dia pun berangkat, tetapi maut menjemputnya ketika dia sampai di pertengahan jalan. Akhirnya, malaikat membawa rahmat dan malaikat pembawa azab saling cekcok. Malaikat rahmat mengatakan, “Dia dating dalam keadaan bertaubat seraya menghadapkan hatinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Sedangkan malaikat adzab berkata, “Sungguh, dia belum pernah melakukan amal kebajikan sama sekali.” Kemudian datanglah seorang malaikat yang menjelma manusia kepada mereka berdua. Mereka menjadikan malaikat tersebut sebagai pemutus hokum di antara mereka berdua. Dia berkata, “Ukurlah jarak tempat dia meninggal dengan kedua daerah tersebut. Daerah yang paling dekat diantara keduanya, maka dia dihukumi sesuai daerah itu. Lantas mereka mengukurnya dan ternyata dia lebih dekat ke daerah tujuannya. Lantas malaikat rahmatlah yang membawa ruhnya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Di dalam riwayat lain yang shahih disebutkan, “Ternyata dia lebih dekat ke desa yang baik dengan yang terpaut satu jengkal. Oleh karena itu, dia dianggap termasuk penduduk daerah tersebut.”
Di dalam riwayat lain yang juga shahih disebutkan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ilham kepada desa yang ditinggalkan agar menjauh dan memberi ilham kepada desa yang dituju agar mendekat. Dia berkata, “Ukurlah jarak antara dia dengan kedua desa tersebut, maka mereka mendapatinya lebih dekat ke desa yang dituju dengan terpaut satu jengkal, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ampunan kepadanya.”

Pelajaran yang dapat dipetika dari hadits ini adalah :
  1. Ahli ibadah yang tidak berilmu dapat membahayan diri sendiri dan orang lain
  2. Masih diterimanya taubat seseorang yang telah membunuh dengan sengaja. Ini merupakan pendapat jumhur ulama. Meskipun ini adalah syariat umat sebelum kita, tetapi syariat kita telah menetapkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan yang lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, dam barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapatkan hukuman yang berat, (yakni) akan dilipatgandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat. (Al-Furqan [25]: 68-70).

    Firman Allah
    Subhanahu wa Ta’ala yang berikut yang artinya, “Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka jahanam, dia kekal didalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan adzab yang besar baginya. (An-Nisa [4]: 93).

    Pengertian dari ayat ini adalah bahwa neraka jahanam adalah balasannya. Terkadang dia dibalas dengan neraka jahanam, terkadang dengan lainnya, dan terkadang diampuni.
  3. Memutus persaudaraan dengan orang-orang yang buruk selama dia masih dalam keburukannya dan bergaul dengan orang yang ahli berbuat kebaikan dan orang yang dapat di ambil manfaat bila dijadikan sahabat.
  4. Dua pihak yang bersengkata boleh mengangkat seseorang untuk memberi putusan atas perkara mereka berdua
  5. Meskipun dosa terlalu besar, ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih besar. Jika seseorang bertaubat dengan sungguh-sungguh, pastilah ia mendapat rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sumber: 101 Kisah Segar Nyata dan Penuh Hikmah 53-56
Artikel : bangkausar.blogspot.com

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Blog Archive

Postingan

Kategori

Pemesanan

- Copyright © Selamat Datang -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -